
-Ana, Anne, n Mba Ruri-
Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun..
Telat ngkali yah postingan ini. Tapi ga papa deh..paling tidak untuk dokumentasi gue.
Itulah yang namanya jodoh, rezeki, dan maut itu ada ditangan Allah. Tidak ada yang mengharap diberi penyakit berupa kanker (payudara, paru-paru, dan otak) seperti yang diderita oleh Mba Ruri ini.
Tapi itu sudah kehendak Allah. Mba Ruri dan keluarga hanya bisa berupaya berobat sekuat daya an tenaga. Hingga akhirnya Mba Ruri dipanggil Allah pada hari Selasa, 5 Agustus 2008 pada pukul 18.45 WIB di RS. MMC, Kuningan, Jaksel.
Kebetulan pada saat Mba Ruri menghembuskan nafas terakhir, diriku berada di depan pintu kamarnya di lantai 3 RS. MMC. Kebetulan sore itu, kami membawa Jasmine ke dokter langganannya di RS. MMC. Setelah selesai urusan Jasmine, daku pamit sebentar ke suami, utnuk nengokin Mba Ruri di lantai 3. Suami tidak ikut menemani karena mengantri mengambil obat di lantai dasar.
Sesampai didepan pintu kamar, bertemu lagi dengan kakak tertuanya Mba Ruri yang langsung mengatakan tidak bisa masuk, karena Mba Ruri sedang kritis dan sedang ditangani dokter. Akhirnya saya ngobrol saja dengan kakaknya Mba Ruri, yang ketika saya bezoek dihari2 sebelumnya sudah bertemu dan ngobrol juga.
Dikatakan bahwa kondisinya Mba Ruri sudah benar-benar drop. Nafasnya sudah sesak sekali karena kanker sudah memenuhi seluruh paru-parunya.
Tak berapa lama kemudian, suami Mba Ruri keluar kamar. Dan sempat ngomong bgini ke kakak Mba Ruri “Kayaknya Ruri udah ga ada, tangannya diangkat jatuh aja gitu”.
Duh mendengarnya saya sudah lemes. Pengen banget masuk ke kamar, melihat bagaimana kondisinya. Tapi ngga enak sama keluarga, karena didalam kamar hanya ada keluarga dekat.
Kemudian suami dan kakak Mba Ruri pamit masuk ke dalam kamar, untuk mendampingi Mba Ruri dan membaca surat Yassin. Saya pamit pulang. Ketika itu Mba Ruri belum dinyatakan meninggal oleh dokter.
Karena rumah saya deket banget dengan MMC, perjalanan pulang hanya butuh waktu sekitar 5 menit. Baruu saja sampe di rumah, dapet sms dari Ana-Panasonic yang mengabarkan Mba Ruri telah tiada. Disambung beberapa sms lain mengabarkan hal yang sama.
Innalillahi Wa Innailihi Rojiun
Ini pasti yang terbaik menurut-Nya. Beruntung sekali Mba Ruri memiliki suami dan keluarga yang dengan setia mendampingi hingga saat-saat terakhir. Di mata saya, mereka terlihat tabah sekali.
Mba Ruri adalah moderator milis Natural Cooking Club (NCC) yang cukup aktif. Kbetulan beliau (dan suaminya) adalah kakak kelas saya di Teknik Sipil, Unpar. Di kampus kita malah ga pernah ngobrol karena angkatan beda jauh. Pertama kali ngobrol malah di acara Home Made Food Fiesta 2007 yang diadain oleh NCC. Di acara itu juga saya pertama kali berkenalan dengan suaminya.
Inilah takdir yang harus dijalani.
Selamat jalan, Mba Ruri..semoga mendapat tempah terindah disisi-Nya..doa kami menyertaimu..